Showing posts with label agricultural. Show all posts
Showing posts with label agricultural. Show all posts

Anggrek dan Kamboja Jepang dalam Bidikan Kamera

Saturday, June 8, 2013 3 comments
kamboja jepang warna putih

anggrek dalam background kosong

bayangan = refleksi

kamboja jepang jenis lain

mempesona..

terpapar sinar mentari

indah dalam periode yang hampir layu 
iseng-iseng belajar mencari obyek foto.. semoga bisa menjadi inspirasi

foto diambil dengan kamera
Kodak Z981

Aneka Menu Sayur Mayur #Edisi Jamur

Friday, February 8, 2013 3 comments
hasil belanjaan
Seminggu yang lalu sempat belanja sayur mayur di Mirota. Sampai sana sempat bingung mau belanja sayuran apa saja. Sedang bosan dengan sayur mayur hijauan. Ingin coba sayuran yang gak hijau dan lebih bisa dinikmati. Sayuran hijau juga bisa dinikmati sih, cin, cuma lagi bosan saja. Selain itu saya sedang berencana tidak mengkonsumsi  nasi terlalu banyak, jadi butuh asupan yang lebih lemawuh (dalam bahasa indonesia apa ea.. semacam lauk yang menggugah selera). Akhirnya memutuskan membeli beberapa jenis jamur. Tiga macam jamur masuk kantong belanjaan. Jamur kuping, jamur merang dan jamur kancing jadi pilihan karena pasti mengolahnya mudah. 

Untuk yang sedang dalam program diet tapi bosan dengan sayuran hijau melulu, atau yang sedang ingin mengkonsumsi banyak masakan dari sayur mayur, mungkin beberapa olahan mudah dibawah ini bisa menjadi inspirasi.


tumis jamur kancing dan bening bayam
Bening bayam tanpa teman rasanya kurang mantab ya, bro. Untuk memberi sensasi pedas sekaligus lauk, tumis jamur kancing menjadi kombinasi yang cocok. Tumis jamur kancing dibuat pedas agak manis dengan menambahkan gula jawa saat menumis bumbunya. 


olahan jamur dan terong ungu
Terung ungu memiliki cita-rasa yang cukup enak. Selain terong bumbu sambal, bisa juga dijadikan pelengkap bersama tumis jamur merang. Jamur merang memiliki kadar air yang cukup tinggi, jadi tidak perlu menambahkan air saat menumis. 


pecel daun kenikir dan timun
Setelah puas menyantap dua jenis jamur, hijauan kembali ke meja makan. Ada yang juga suka daun kenikir? Saya pribadi lebih suka daun kenikir dari pada bayam. Teksturnya memang sedikit kasar, tapi sangat cocok direbus untuk lalapan atau pelengkap olahan pecel. Kombinasi nasi hangat + ayam goreng + sambal bawang + lalapan kenikir menurutku perfecto.. (lho... mulai tidak fokus, judulnya saya makan sayur-sayurna, eh ayam dibawa-bawa.. hehe)

tumis jamur kuping dan brokoli goreng tepung
Jamur terakhir yang tersisa adalah jamur kuping. Sebenarnya ingin membuat sup jamur kuping, tapi akhirnya jamur ini mampir di penggorengan untuk ditumis bersama bakso ikan. Selain itu iseng-iseng membuat brokoli goreng tepung, dan rasanya juga jadi enak, pemirsa-pemirsa.


jus hijau asam-manis
Semua jenis masakan sayur-mayur sudah, kurang lengkap ni kalau gak ada minuman segarnya.. bakalan seret kalau gak minum. Jus kombinasi mentimun + apel malang + jeruk nipis bisa jadi pilihan untuk di coba. segar sekali, prend.. 

Nah, selamat mencoba, ya.. Yuk, konsumsi banyak sayur dan salam hidup sehat.. ^^v

Pelapis Lilin pada Buah Apel dan Pear

Friday, February 1, 2013 2 comments
Beberapa hari terakhir saya sedang gencar-gencarnya mengkonsumsi banyak buah dan sayuran. Buah yang sering muncul di rumah akhir-akhir ini adalah apel malang. Buah yang satu ini sempat menjadi "eksklusif" gara-gara harganya yang selangit dan jauh dibandingkan buah import, hmm sedih sekali. Dasarnya orang Indonesia, giliran apel lokal lebih mahal dibanding apel import jadilah tetep yang di beli yang murah. Padahal banyak petani lokal yang menggantungkan hidupnya sama hasil perkebunan apel juga, kan (mulai gak fokus ni pembicaraan.. hehe).

Nah, kebiasaan saya adalah memakan buah apel beserta kulit-kulitnya. Kulit dari buah apel itu sendiri banyak manfaatnya, memiliki kandungan antioksidan berupa quercetin dan bioaktivitas yang lebih tinggi dibandingkan buahnya (hmm tapi ya gak juga buahnya dibuang terus kulitnya aja yang dimakan, jangan ya.. hehe). Sebenarnya sudah dari beberapa waktu lalu tahu kalau dalam buah apel dan pear yang biasa kita beli di pasaran sering dilapis lilin entah oleh siapa yang tujuannya membuat buah lebih awet di pasaran nantinya. Apakah ini termasuk tindak kecurangan atau bukan? Entahlah. Niatnya konsumsi buah untuk kesehatan tapi malah "diracuni". Dua hari pertama makan apel tiap hari langsung babat aja sekulit-kulitnya, sebiji-bijinya, sepohon-pohonnya, hehehe karena berfikir ini kan apel lokal, masak iya dilapis lilin juga?? Kreasss kreasss.. lepp lepp.. Ckck.. Hari ke tiga iseng ambil pisau lalu kerok perlahan permukaan kulitnya dan... pemirsa sekalian, spektakuler.. ada lapisan lilinnya, cin.. Jadi mungkin apel yang saya makan dua hari pertama itu kulitnya bukan mengandung antioksidan tapi overoksidan, ya. 


Sebenernya sempet ketemu dengan artikel yang membahas soal asal-muasal lapisan lilin pada buah segar ( http://health.detik.com/read/2010/02/08/110709/1294968/766/amankah-pengawet-lilin-pada-buah-buahan ) yang ternyata si-pelapis lilin untuk buah atau sayur terbuat dari bahan yang aman. Eits, tapi apa iya bahan pelapisnya kalau yang bikin orang Indonesia tetap aman? Bukan bermaksud underestimate sama buah-buahan lokal, tapi tau sendiri kan kecurangan-kecurangan yang bayak diliput di acara semacam Investigasi itu, serem..

Tidak perlu khawatir, karena ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebelum buah tersebut dikonsumsi. Untuk keamanan lebih baik mencuci buah dalam air hangat untuk meluruhkan lapisan wax-nya atau mengupas kulitnya jika tetap ragu. Mencuci buah pada air yang mengalir lebih dianjurkan, sista. Sebenarnya mengkorek lapisan lilin pada buah bisa juga dilakukan, tapi cara tersebut kurang efektif, so bisa diganti dengan merendamnya dalam larutan garam. Selamat mencoba.. Jangan sampai tujuan kita ternodai gara-gara ulah pihak yang tidak bertanggung-jawab ya, friends.

Bikin Taman tak Perlu Banyak Lahan

Saturday, December 1, 2012 4 comments
Tinggal di perumahan membuat kegiatan berkebun sedikit terganggu. Maklum, tidak ada lagi sisa lahan yang bisa digunakan untuk berkebun. Padahal ayahku sangat suka berkebun. Beliau punya banyak koleksi bunga kamboja jepang dan beberapa bunga anggrek. Kalau kata orang dulu, tangan ayahku "dingin", jadi nanem apa aja bisa tumbuh subur. 

Sebenarnya aku sendiri sangat suka dengan tanaman tapi beda sekali denganku, nanem apaan juga musti gagal dulu. Pernah seorang teman yang suka dan hobi berkebun memberiku tanaman hias, kalau tidak salah namanya sikas. Dia membeli dua bonggol yang masih kecil dan memberikannya satu untukku, "Nih, dirawat, ya.. Nanti beberapa bulan lagi kita lihat sikas siapa yang paling bagus," waduh, gaswatt.. aku tidak tau pula cara menanam dan merawatnya. Sebagai pengakuan dosa, aku membuangnya begitu saja dan akan mengaku kalah karena tidak bisa merawat tanaman sikas. Apes banget saat beberapa bulan kemudian kami berencana bertemu, dia sms dan pesan agar aku memfoto tanaman sikas pemberiannya untuk dibandingkan dengannya. Ohmaigot, sikas siapa pula yang akan difoto? Sikas pemberiannya bukan hanya tidak tumbuh subur, bahkan belum sempat tumbuh dan sudah kubuang, aw aw aw aw panic attack, Bro. Saking gak pengen mengecewakan temanku itu, aku akhirnya melakukan tindakan konyol (mungkin ini penyebab orang bertanya; berbohong demi kebaikan boleh gak?? hmm) dengan mencari foto sikas di internet dan dengan segala cara agar tak mencurigakan kubuat foto itu seakan-akan sikas pemberiannya (ya ampun, penjahat sekali ya.. hehe). Kejadian itu berakhir dengan ending yang datar. Temanku cuma berkomentar "Punyamu gak sebagus punyaku, daunnya kok tumbuhnya aneh, ya," huft aku lega.  

Kembali lagi soal perumahan. Hobi berkebun ayahku akhirnya tersalurkan dengan sedikit area sisa si depan rumah, di samping rumah, di seberang rumah, hmm, di balai seberang jalan dekat rumah, dan yang paling gokil di tanah kosong dekat masjid 100 meter di depan rumah. Apa yang ditanam? Hoo macam-macam, mulai dari tanaman hias yang memang lazim ada di depan rumah, tanaman cincau, sawo yang sudah di bonsai, ketela rambat, sampai pepaya.

Kegemaran ayahku itu sebenarnya berdampak positif lho, Mas Bro dan Mbak Bro. Rumah yang minimalis sekali ini jadi sedikit "adem" dengan hijau-hijauan di sekitarnya. Tidak terasa panas dan kering kerontang. Jadi ada yang bisa "di sawang" kalau lagi gundah gulana di rumah. Saat aku amat-amati, perumahan yang terletak di belakang kantor BKN ini, dihuni sekitar 58 kepala keluarga, sudah berdiri lebih dari 30 tahun dan dengan keterbatasan lahan beberapa orang diperumahan juga melakukan hal yang sama dengan ayahku, memaksimalkan area kecil di depan dan samping rumah untuk menanam tanaman hias, untuk penghijauan. Rasanya memang jadi lebih adem dibandingkan perumahan-perumahan mewah yang baru dibangun di sekitar rumah. 

beberapa tanaman hias di depan rumah
beberapa pot di teras rumah
masih tanaman di depan dan teras rumah
yang ini koleksi tanaman di samping rumah
ayah membuat rak tamannya sendiri, lho.. ^^
Masih di samping rumah
Pohon pepaya dan kolam ikan dalam bejana tanah liat di seberang rumah
nah ini dia, siempunya tanaman hias sedang panen daun cincau di seberang rumah.
My Father ^^
Semua yang nanem ayahku sendiri, tugasku menyiram dan menikmati pemandangan hijaunya saja, hehe.  Jadi sebenarnya gak perlu lahan yang luas untuk punya tanaman hias. Bahkan tanaman hias juga ada yang bisa diletakkan di dalam rumah, kan. Yuk mari menghijaukan rumah ^^. Meskipun tidak punya lahan yang luas, tapi aku senang disekitar rumahku tetap hijau dan segar. Thanks to my father... ^^


Foto diambil dengan kamera Kodak Pro-DSLR Z981

Refreshing dengan Bunga "Anonim" bersama Sahabat

Tuesday, March 20, 2012 8 comments
Minggu pagi yang cerah.. aku dan sahabatku, nama disamarkan menjadi Eyo mencoba mencari peruntungan di pasar tiban Sunday Morning alias SunMor sepanjang jalan kampus UGM. Termos nasi yang kami isi penuh dengan cup-cup puding cokelat dan nampan plastik berisi roti bakar yang juga rasa cokelat siap beredar. Dengan semangat membara kami "mengasongkan" dagangan kami (mengasongkan?? bener gak ya kata-katanya...ckck). Belum berapa lama beredar dan menyerukan jenis dagangan dengan suara yang keras tapi pelan (lhoh,, gimana sih?? baca:  dengan suara yang ragu-ragu setengah PD), kami lupa dengan fokus utama. Apa yang terjadi?? Kami asik mengamati dagangan yang dijual sepanjang jalan SunMor. Wuidih.. isinya malah cuma mupeng. Celengan lucu-lucu, cemilan jamur, tahu sumedang, tahu petis, nyam-nyam, hmm masih ada juga tas-tas lucu, sendal-sepatu murmer, jilbab, dannnn banyak lagi. apa mau dikata, biasanya kami berdua ini pengunjung di SunMor dan kali ini kami harus telan ludah dan fokus pada apa yang kami jual. (nyesek tapi tetep maksa senyum nawarin dagangan).

Udah-udah jangan tanya atau pengen tau dagangan kita laku berapa. Stop, stop, kita alih pembicaraan saja, ya (hihihihiiii, jadi malu). Tapi yang terpenting kami bisa mengambil hikmah dari langkah awal pencapaian ini. Tidak peduli berapa hasilnya. Hmm sebenernya si peduli, tapi tiba-tiba Om Mario Super Teguh merasuki kami berdua dan membisikkan; "Hmm … seandainya kita lebih sering membayangkan hasil baik dari upaya kita, daripada menggelisahkan kemungkinan buruk, mungkin akan lebih banyak orang yang kita termui, dan lebih banyak pekerjaan yang kita coba. Tuhan tidak merencanakan kita gagal", oke.. pelajaran hari ini menjadi peristiwa yang besar dan menbangun pola pikir kami jadi lebih baik, amin (hayo,, pada penasaran, ya apa yang terjadi dengan dagangan kami?? hehehe, rahasiaaa... hehe).

Badan sudah berlumur keringat, cacing-cacing di perut ketuk-ketuk pintu sambil ngomel-ngomel, akhirnya kami memutuskan istirahat sejenak di taman utara Gedung Pusat UGM. Tidak terlalu ramai, dan tenang. Sambil menikmati puding dan roti tawar dagangan (lhoh, kok dimankan sendiri?? hehehe ya namanya juga usaha,, usaha menenangkan cacing-cacing diperut) kami sibuk mengamati tingkah laku kegiatan orang-orang disekitar sambil mengomentarinya (wah, parah.. tidak patut ditiru, hehe). 

-ada yang bersepeda, duduk-duduk dibawah kanopi, bahkan ada yang sedang sesi pemotretan, hehe-

-saling asik bercengkrama dengan keluarga-

Ditengah asik mengobrol tapi pikiran sedang jauh menembus asa (baca : mbatin usaha dagang hari ini), pandanganku mampir ke sudut utara gedung. Hutan UGM itu masih sama seperti dulu. Terakhir aku duduk-duduk dan menikmati hawa Gedung Pusat seperti ini kalau tidak salah saat aku duduk di bangku SMP. Sudah lama sekali berlalu, tapi ingatan itu muncul sangat jelas di benakku. Aku, adik, ibu dan ayah bersepeda dari rumah dan piknik di Gedung Pusat. Menikmati udara yang sejuk, mengamati orang bersepeda, bermain skateboard, sepatu roda, dan arena tamia, sudah lamaaa sekali (jadi rindu masa-masa itu). Kalau ibu masih ada, mungkin kegiatan itu bisa dilakukan kembali. Aku ingat sekali cerita-cerita ibu, dulu ibuku saat mengandungku selalu mengajak ayah jalan-jalan di lingkungan UGM dengan harapan kelak anaknya bisa kuliah di UGM. Cita dan harapan itu telah terwujud, namun ibu justru tidak sempat merasakannya (wah, mulai ngelantur ini lamunanku, mari kita kembali ke Gedung Pusat).

Lamunan buyar saat melihat pohon bunga di batas pagar hutan UGM yang daun dan bunganya rimbun menjulur ke area taman. Tanaman itu masih ada, dan masih sama. Tanaman yang aku dan Eyo tidak tau namanya. Tanaman yang kami anggap bunganya tidak cantik dan justru menyerupai daun hanya saja berwarna pink dan putih, tumbuh rimbun dan "ngrembuyung". Mau lihat seperti apa tanamanya? Ini dia... jreng jreng..


-Adakah yang tau tanaman berbungan daun ini apa namanya??-

Wah,, daripada duduk berdiam diri dan melamun saja, MarKiFot.. alias mari kita foto-foto!! Dengan kamera hp seadanya, jadilah dua orang yang semula engggan tersenyum ini memanfaatkan tanaman berbunga daun yang baru saja dicelanya habis-habisan sebagai background berfoto ria. Tak apalah kali ini menjadi edisi narsisme.
jpret jpret,, crik crik...
kiri dikit,, geser geser
kanan, kanan, maju maju, stop..
mundur dikit...
yak sip..  jprettt (ini tukang foto apa tukang parkir, ya??)

-nampang duluuu,, posee-

-aku dan sahabatku, Eyo-


-pohon ini bagus juga kalau di foto ^^-

Ternyata benar, dont judge the book from this cover, nyatanya setelah puas mengumpat pohon berbunga daun yang anonim ini, kami malah asik berpose dan berfoto ria dibawahnya. Kalau diamat-amati, bunga ini ternyata indah juga (sambil minta maaf ke bunga anonim itu karena sudah mencela..)

Kalau bisa dibilang, ajang-foto-foto dan narsism ini sedikit membuang kepenatan dan merefresh diri dan pikiran, lho. Menjadi pilihan yang simple dan mudah. Bagi kalian yang berdomisili Yogyakarta dan sedang bingung untuk menghabiskan weekend dimana, datang saja ke taman utara Gedung Pusat UGM. Banyak hal yang bisa dilakukan disana, seperti; olahraga, foto-foto, sekedar mengobrol, baca buku, bermain bersama hewan kesayangan (rencana selanjutnya adalah membawa Flepper-kelinci Eyo bermain di rerumputan yang ada di sana), gathering bersama teman atau komunitas, wah masih banyak lagi yang bisa dilakukan di sana. Yang terpenting, tetap jaga kebersihan, ya Kawan.. Selamat bersenang-senang.

pesan sponsor: 
BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA
JAGALAH KEBERSIHAN, KAWAN.. ^^
salam unyu-unyu..

SI Hijau Cincau

Tuesday, December 13, 2011 2 comments
pada kesempatan ini saya ingin berbagi cerita mengenai tanaman milik ayah yang punya banyak khasiat. tanaman merambat yang memiliki daun berukuran sedang yang bentuknya menyerupai bentuk sekop dalam istilah kartu remi ini tergolong mudah dikembangbiakkan. awalmulanya, kami tidak memiliki tanaman ini, tapi tetangga sebelah rumah kami menanamnya dan tumbuh dengan subur. tanaman dengan nama ilmiah Cyclea Barbata milik tetanggaku jarang dipanen karena si empunya rumah jarang menempati rumahnya, alhasil ayahku rutin minta ijin untuk memanenya. makin sering dipanen makin rimbunlah daunya.

sampai pada suatu ketika ayah membeli tanaman ini di pasar tradisional. tapi saat kuamati, daun dari tanaman yang dibeli ayah sedikit berbeda dengan daun cincau kebanyakan. milik ayahku, daunnya lenbih kecil dan meruncing. usut punya usut jenis yang ayahku beli adalah jenis cincau cina (soal kebenarannya masih patut dipertanyakan, hehe). karena kami tinggal di perumahan kecil yang tanahnya habis untuk dibangun, akhirnya tanaman ini ditanam di depan rumah, menjalar menumpang pada tower air yang tingginya hampir 3 meter.

-daun cincau dengan karakter meruncing dan berukuran lebih kecil-

senangnya menyaksikan tanaman ini tumbuh dengan subur. saat panen, kami sekeluarga hanya mengolahnya untuk konsumsi sendiri. seperti kebanyakan orang, kami juga meremas-remas daunnya dengan air yang cukup (jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit, dan dasarnya hanya ilmu kira-kira..) sampai daun mengeluarkan lendir dan terasa lengket. biasanya kondisi tersebut didapat ketika daun mulai hancur. memang harus sabar ketika memeras daun cincau ini. sebenarnya ada cara praktis untuk mengolahnya, yaitu menghancurkan daun dengan blender, tapi kalau saya lebih suka dengan cara tradisional. hasil yang diperoleh sedikit berbeda sari segi tekstur. 

-ijo royo royo ^^-

setelah proses pemerasan, penyaringan, dan penantian beberapa jam saja, air perasan cincau akan mengental seperti agar-agar, hanya saja kekenyalannya yang berbeda (tidak sekenyal agar-agar). mengapa bisa terbentuk gel? menurut yang saya baca, itu dikarenakan kandungan karbohidrat dari daun cincau inilah yang mampu berikatan dengan molekul-molekul air dan akhirnya membentuk konsistensi seperti gel.  biasanya cincau ini akan dinikmati dengan tambahan kuah santan dan gula jawa, tapi yang istimewa di keluarga saya, kami bisa menyantap agar cincau ini dengan segala macam minuman yang tersedia dirumah; seperti susu, es teh, sirup, bahkan kopisusu. sedikit aneh, ya.. tapi pada dasarnya kami sekeluarga menyukai cincau hijau. saat membandingkan teksturnya, hasil gel cincau Cina memiliki tekstur dan rasa yang jauh lebih lembut dibandingkan dengan cincau berdaun lebar. 

-saat cincau berenang dalam susu gulajawa-

dari mulut ke mulut dan dari beberapa artikel yang saya baca, olahan daun cincau hijau ini memang memiliki beberapa khasiat seperti; meredakan panas dalam, menurunkan tekanan darah, meringankan radang tenggorokan dan lambung, meredakan demam dan sakit perut serta maag, juga melancarkan buang air besar. wah, banyaknya... khasiat ini tentunya akan muncul dengan konsumsi yang rutin. 

mari kita konsumsi Cincau Hijau...^^

Sansevieria, tak Setajam "Lidah Mertua"

Wednesday, November 2, 2011 0 comments
apa benar lidah mertua itu tajam? sampai-sampai tanaman yang satu ini di Indonesia populer dengan sebutan lidah mertua. tanaman dengan nama latin Sansevieria trifasciata "laurentii" secara tampilan fisik pastinya sudah populer dikalangan masyarakat. tanaman yang tergolong dalam tanaman hias ini bercirikan; daun yang panjang, kaku, bermotif totol-totol dengan garis tepi polos berwarna kuning. walaaa... ini dia gambarnya...


sudah ingat dengan tanaman yang satu ini? yapp,, sedikit mengenang kembali ke masa kecil saya. saya tinggal di sebuah perumahan kecil di belakang kantor tempat ayah saya bertugas. masa kecil saya habiskan dengan bermain di halaman dan taman kantor yang memang luas dan bersih. seperti lingkungan kantor pada umumnya, sekeliling kantor dipenuhi dengan tanaman- tanaman hias. tapi saya masih sangat ingat tanaman yang satu ini, lidah mertua yang memenuhi area taman adalah tanaman yang sangat tidak saya sukai. kenapa? tidak tampak seperti tanaman hias menurut saya. hanya daun panjang yang kaku dan berwarna hijau tua. jarang berbunga dan tampak tidak rapi. itulah kesan saya pada tanaman hias yang satu ini. di rumah pun tidak ada tanaman ini. saya ingat jaman dahulu sempat ayah saya menanamnya langsung di tanah (tidak dalam pot), dan tetap saja saya tidak suka. 

sampai suatu sore di tengah rintik hujan sepulang dari kampus, saya menemukan dua pot besar berisi tanaman lidah mertua menjadi penyambut tamu di depan pintu rumah. spontan saya protes pada ayah saya. mengapa tanaman tak berbunga yang berkesan kaku ini menjadi hiasan di taman kecil rumah saya? kata ayah, tanaman ini bisa menjadi anti polutan dan mampu menghisap gas CO2. yang pertama terpikir adalah tidak percaya, walaupun beberapa detik kemudian saya menyadari, semua tanaman memang anti polutan.

akhirnya saya penasaran, apa benar tanaman yang saya tak pernah suka dengan tampilan fisiknya ini punya manfaat sebegitu besar? setelah mencari infoormasi, benar saja, saya takjub mengetahui kenyataan ini. dari sumber yang saya baca, disebutkan bahwa Sansevieria menjadi obyek penelitian tanaman penyaring udara untuk membersihkan udara di stasiun ruang angkasa.NASA menanam ribuan sansevieria 10-25 meter dari instalasi nuklir yang tujuannya adalah untuk meredam apabila terjadi kebocoran. tanaman ini mampu menyerap lebih dari 107 unsur polutan berbahaya yang ada di udara. hal tersebut dikarenakan Sansevieria mengandung bahan aktif pregnane glikosid yang berfungsi mereduksi polutan menjadi asam argonik, gula dan asam amino. dengan demikian menjadi tidak berbahaya lagi bagi manusia.

lalu, bagaimana mekanismenya hingga tanaman kecil ini punya manfaat besar? (dari sumber yang saya baca, saya kurang begitu memahami dengan baik karena banyak menggunakan jargon biologi, tapi akan saya coba ceritakan dengan bahasa yang lebih mudah).

jadi, Sansevieria menjadi pencegah polutan melalui proses alamiahnya yaitu fotosintesis. dalam proses fotosintesis, tanaman membutuhkan air dan karbon dioksida. jika keduanya tersebut bergabung dengan cahaya, maka akan dihasilkan glukosa, air dan oksigen. hasil fotosintesis tersebut akan digunakan sebagai tenaga bagi pertumbuhan tanaman. tentunya semua tanaman mengalami proses tersebut, tetapi yang unik dari Sansevieria adalah, tanaman ini diketahui mampu menyerap bahan beracun terus menerus sepanjang hidupnya, dan inilah keistimewaanya, disamping kandungan bahan aktif pregnane glikosid yang dimilikinya. oleh karena itulah tanaman Sansevieria dianggap sebagai anti polutan terhadap asap rokok, penyerap karbon dioksida, benzene, formaldehid dan trychloroethylene.

tanaman ini juga menjadi pilihan tanaman indoor karena kemampuannya menyerap polutan asap rokok. sumber lain menyebutkan bahwa tanaman ini akan memberikan aroma yang berbeda saat sore hari, oleh karenanya di beberapa negara tanaman ini digunakan sebagai bahan pembuat parfum. waw... saya masih takjub dengan informasi yang saya baca (antara percaya-tidak percaya).

Sansevieria memiliki beberapa jenis. diantaranya Sansevieria lokal, hibrida, dan mutasi. gambar diatas adalah contoh Sansevieria lokal. Sansevieria hibrida merupakan hasil penyilangan dari dua atau tiga jenis Sansevieria. tanaman hias ini cenderung mudah di rawat karena tanaman ini tidak butuh banyak air setiap harinya karena kemampuan daunya menyimpan cadangan air. cocok di tanam di dalam pot maupun langsung di area tanah. ternyata tanaman ini juga berbunga, lho. yang menarik, tidak semua tanaman dapat memunculkan bunganya. hanya tanaman yang benar-benar senior dan berkualitas baik mampu menghasilkan bunga. kerena tanaman yang mampu menghasilkan bunga adalah yang memasuki masa vegetatif. oleh karenanya tanaman Sansevieria yang mampu berbunga memiliki nilai jual yang lebih tinggi. beginilah bentuk bunga Sansevieria, cantikk...




maka, benar sekali pepatah yang mengatakan, dont judge the book by the cover. dibalik daunya yang tampak kokoh dan kaku, di balik namanya "Lidah mertua" yang menggambarkan ujung daun yang tajam, tanaman hias bernama latin sangat cantik ini, Sansevieria memiliki peran yang besar dalam menyerap polusi udara di tengah meningkatnya pencemaran udara besar-besaran di Indonesia. semoga tanaman Sansevieria ayah saya bisa berbunga dan berkembang biak dengan baik.

selamat menanam Sansevieria... ^^
















Mari Menanam Cabai Rawit..

Tuesday, September 27, 2011 0 comments


berawal dari membantu adikku mengerjakan tugas biologinya. tugasnya ialah membuat proposal penelitian tentang pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. semapat bingung juga mau memilih tanaman apa yang akan dijadikan obyek penelitian. ahaa... terlintas tanaman cabai milik salah seorang teman. menurutnya menanam cabai langkahnya sangat mudah. alhasil aku dan adikku memutuskan untuk memilih tanaman cabai rawit sebagai obyek penelitian

setelah mencari informasi lewat dunia maya dan bertanya pada beberapa orang, akhirnya penanaman cabai dimulai. penanaman cabai rawit yang saya lakukan tidaklah langsung berhasil. mungkin karena saya dan adik merasa "grogi" karena tanaman ini nantinya akan dibuat laporan dan dikumpulkan untuk dinilai, hal itu membuat kami harap-harap cemas. sayangnya si biji cabai mengetahui kecemasan kami, dan percobaan pertama gagal. biji tak kunjung berkecambah. 

memastikan lagi pada teman yang telah berhasil menanam tanaman cabai mengenai tekniknya, menyiram tanaman itu serutin mungkin, menengoknya setiap saat, tetap tak ada pergerakan. saya dan adik makin panik. syukur alhamdulillah, setelah belajar dari kesalahan satu dan lain hal, percobaan kami yang ketiga membuahkan hasil. ini dia hasilnya saat blog ini kutulis...

berikut ini langkahnya hingga seember benih itu bisa berkecambah. 
siapkan alat dan bahan berupa :
  • seember tanah yang telah digemburkan (kalau saya hanya mengaduk aduk tanah tersebut agak bercampur dan gembur)
  • 5 buah cabai rawit merah yang sudah sangat matang


tahapan menanam cabai rawit:
  1. keluarkan biji cabai rawit lalu keringkan dibawah sinar matahari. (jujur saja, teknik saya saat itu terbalik, jadi saya mengeringkan buah cabai itu dibawah sinar matahari dan setelah buahnya keriting karena kering, barulah saya keluarkan bijinya. tapi bisa tumbuh juga hasilnya..)
  2. teorinya, biji yang sudah kering dan akan ditanam sebaiknya disortir dengan cara  pengetesan. tes dilakukan dengan merendam biji cabai di dalam air, biji yang terapung merupakan biji yang kurang baik kwalitasnya. saya juga tidak melakukan ini, tapi untuk mendapat hasil yang optimal teori ini boleh juga dicoba.
  3. setelah biji cabai rawit kering, maka biji-biji ini siap untuk disemaikan. 
  4. sebar seluruh biji diatas seember tanah yang telah digemburkan dan tanah dalam keadaan cukup basah. (kegagalan dalam percobaan pertama dan kedua saya terletak di tahap ini, saat itu kami hanya menyebar masing-masing 5 biji dalam tiap polybag karena mengikuti metode penelitian, padahal dalam proses penanaman ini teori probabilitas menurut saya berlaku. jadi semakin banyak kita menyebar benih atau biji, makin besar kemungkinannya ada yang berhasil tumbuh. benar saja, setelah saya menyebar banyak benih, banyak juga biji yang berhasil berkecambah. jika masalahnya adalah jarak, perkecambahan dapat dipindah dalam area tanam yang lebih luas jika telah memiliki tinggi kurang lebih 5 cm)
  5. sirami tanah yang telah disebari biji cabai secara rutin, baik dilakukan setiap sore hari. 
  6. tempatkan tanaman pada area yang tidak terlalu terpapar sinar matahari tapi tetap mendapat cahaya matahari
  7. tunggu sampai kurang lebih dua minggu, perkecambahan mulai tumbuh.
taukah kalian betapa rasanya senang sekali melihat benih benih itu berhasil tumbuh hijau dan subur. impian saya, memiliki tanaman cabai rawit dihalaman rumah adalah hal yang mengasikkan. walaupun saya bukan pecinta masakan puedas, tapi akan sangat menyenangkan dapat memetik cabai kapanpun dibutuhkan dan tentunya tanaman cabai saya adalah tanaman cabai organik karena saya tidak akan menggunakan pestisida apapun nantinya. rencananya dalam beberapa hari kedepan saya akan memindahkan anakan cabai itu ketempat yang lebih luas dan memberinya ruang untuk tumbuh.
apakah kalian tertarik untuk mencobanya? selamat mencoba...

my favorite song